Peti Mati bikin keki

Dunia kreatif memang menyenangkan sih. Di industri ini kita bisa berlomba-lomba melakukan tindakan ‘bodoh’ untuk menarik perhatian pasar. Tindakan “bodoh” itu merupakan strategi yang sangat jitu buat merebut perhatian pasar. Apalagi untuk launching / memperkenalkan suatu produk baru ke masyarakat. Buat nyemplung kedalam masyarakat, dibutuhkan sesuatu yang unik dan beda dari yang sudah ada. Setidaknya itulah teori2 yang saya dapet waktu kuliah dulu ( padahal baru setaun lulus )..

Flashmob nya mizone tuh salah satu campaign yang keren. Campaign yang melibatkan masyarakat, dan menjadikan masyarakat bagian dari kampanye itu sendiri. Karna melibatkan masyarakat langsung, otomatis efek dari kampanye ini akan lebih cepat terasa dibandingkan kampanye yang hanya 1 arah.

Tapi, ada juga tindakan ‘bodoh’ yang memang agak bodoh menurut saya. Kejadian ini masih sangat fresh, baru kemaren (6/7/11) kejadiannya. Pasti banyak orang2 di industri kreatif yang sempet heboh kemaren, karena perbuatan orang bernama Sumardy.

Jadi begini kronologis ceritanya. Once upon a time in jekarda, there is a man named Sumardy, CEO of Buzz & Co. Mas Sumardy ini pakar marketing yang akan melaunching bukunya yang berjudul ‘Rest in Peace Advertising Killed by Word Mouth Agency’. Dia berpikir buat bikin strategi marketing yang nyambung sama judul bukunya yang bertema kematian, yaitu dengan menggunakan peti mati. Dia pikir kalo kampanye ini bakal unik dan menarik, tanpa mikirin efek dari perbuatannya ini.

Jadi dia kirim 100 peti mati lengkap dengan bunga2 di dalemnya dan dianter pake ambulance! Peti2 ini dia kirim buat media, marketing manager, dan owner dari advertising agency.

WOW keren dan niat sekali diaaa!

Pertama denger berita ini gue langsung terkesima takjub. Lumayan unik cara jualannya. Tapi… Efek dari promosi nyeleneh ini, Mas Sumardy kabarnya jadi tersangka atas perbuatan tidak menyenangkan. lho kok bisa??

sampe diperiksa polisi segala, dikira ada bom nya kali

Banyak penerima peti mati ini yang merasa terusik dan tersinggung, dan nglaporin Mas Sumardy dengan tuduhan tindakan tidak menyenangkan. Tapi memang sih, coba kalo kita yang dikirimin peti itu, siang2 bolong tiba2 dateng ambulan ngirimin peti mati. Pasti langsung pikiran kita kemana2 kan. Bisa aja yang mikir ini sebuah ancaman, seolah2 kita mau dibunuh, dan udah disediain peti matinya. Ada juga yang berpikiran di jampi2 ato disantet. Karna memang peti mati identik dengan kematian, kebangkrutan, kegagalan, dan bermacam efek negatif lainnya. Jadi wajar2 aja kalo penerima peti ini lapor ke polisi.

bikin heboh sekantor

Tapi dibalik semua efek negatif yang ditimbulkan, gue rasa kampanye ini cukup berhasil menyedot perhatian masyarakat. dan pasti banyak orang yang nyari bukunya. Dan pastinya Mas Sumardy ini jadi mendadak terkenal, semua orang tau dia sekarang. He got both negative and possitive effects from his actions.

mukanya jadi ter ekspos dan terkenal
bakal jadi best seller nih kayanya

Bener2 sebuah pelajaran berharga buat insan2 kreatif di negeri ini. Dari kasus ini kita semua belajar untuk lebih aware dengan promosi2 yang melibatkan unsur2 yang sensitif. Berpikirlah seribu kali dan risetlah jutaan kali sebelum memutuskan untuk melakukan sebuah tindakan ‘bodoh’. Bersiaplah untuk mengantisipasi ‘aftereffect’ yang akan terjadi karena tindakan ‘bodoh’ yang kita lakukan.

Semoga apa yang sudah Mas Sumardy lakukan bisa memajukan industri kreatif di negeri ini. Ayo dukung Mas Sumardy agar bebas dari hukuman. Hidup insan kreatif Indonesia! yosh!

3 thoughts on “Peti Mati bikin keki

  1. Mestinya peti matinya dia bikin pake acrylic ato apalah, didesain, jangan peti mati beneran…ide bagus, tapi eksekusi kurang matang, hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s